Western Movies , 54 hits


[Info]

Released : 25 October 2013 (UK)
Country : USA, Fraance
Language : English
Genre : Drama, Horror, Thriller
Director : Jim Mickle
Writers : Nick Damici, Jim Mickle
Starcast : Bill Sage, Ambyr Childers, Julia Garner

[Sinopsis]

Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa film dapat dijadikan sebagai sebuah sarana efektif bagi banyak orang untuk mengutarakan pendapat maupun kritik politik dan sosial mereka. Sutradara asal Serbia, Srdjan Spasojevic, tahun lalu menggunakan filmnya, A Serbian Film, untuk memberikan kritik tajam kepada pemerintahan negaranya mengenai bagaimana pemerintah Serbia memperlakukan rakyatnya selama ini lewat deretan adegan penuh kandungan sadisme dan seksualitas yang begitu ekstrem sehingga bagi beberapa kalangan dianggap telah melewati batas. Terlepas dari berhasil atau tidaknya film tersebut menyentuh pemerintah Serbia, harus diakui A Serbian Film setidaknya mampu membuka begitu banyak mata untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di negara tersebut.

Masih menggunakan horor sebagai medium penyampaian pesannya, Jorge Michel Grau juga menggunakan film yang menjadi debut penyutradaraannya, We Are What We Are, untuk melakukan sedikit kritisi terhadap kondisi sosial masyarakat Meksiko saat ini. Lewat 90 menit durasi tayang film ini, Grau menggambarkan bagaimana kemiskinan telah mengubah sebagian masyarakat untuk dapat melakukan apa saja dalam usaha mereka dalam bertahan hidup, termasuk dengan ‘memangsa’ manusia lainnya.

Sebuah adegan di pusat perbelanjaan, dimana sesosok mayat tergeletak terbaring dan tak dipedulikan pengunjung pusat perbelanjaan tersebut, serta adegan polisi yang disuap oleh seorang pelacur – bukan dengan uang, melainkan dengan seorang anak gadis di bawah umur, jelas merupakan sebuah gambaran pedih mengenai bagaimana rasa kemanusiaan rakyat Meksiko (dan dunia?) saat ini yang semakin memudar. Makna-makna kritikan sosial tersebut mungkin tidak akan begitu mudah untuk dicerna dan ditangkap oleh sebagian besar penonton We Are What We Are. Ini diakibatkan karena Grau mampu membungkus pesan-pesan tersebut melalui jalan cerita yang cukup menarik.

Lewat naskah yang juga ia tulis sendiri, Grau memusatkan kisah film ini pada empat anggota sebuah keluarga miskin Meksiko – seorang ibu, Patricia (Carmen Beato), bersama 3 orang anaknya, Alfredo (Francisco Barreiro), Sabina (Paulina Gaitan), dan Julián (Alan Chávez) – yang baru saja ditinggal mati sang ayah (Humberto Yáñez). Tentu saja, kehilangan seorang kepala keluarga yang selama ini memberikan nafkah bagi seluruh keluarga adalah sebuah permasalahan yang jelas akan mengguncang setiap anggota keluarga tersebut.

Bukan, We Are What We Are bukanlah sebuah melodrama mengenai bagaimana sebuah keluarga berusaha untuk memenuhi kebutuhan harian mereka setelah mereka ditinggal sang kepala keluarga. Yang menjadi sisi paling menarik dari film ini adalah empat orang anggota keluarga yang disaksikan penonton adalah empat orang anggota keluarga kanibal. Ya… kanibal dalam artian manusia pemakan manusia. Meninggalnya sang ayah membuat empat orang anggota keluarga tersebut kebingungan mengenai siapa yang akan memimpin mereka, mengambil keputusan dalam keluarga dan, tentu saja, mencari manusia yang akan dijadikan santapan dalam ritual keluarga mereka.

Menjauhi pola A Serbian Film dan lebih mendekati film asal Yunani peraih nominasi Best Foreign Language di ajang The 83rd Annual Academy Awards, Dogtooth, We Are What We Are menunjukkan bagaimana cara pengasuhan orangtua dapat mempengaruhi pertumbuhan jalan pemikiran anak-anak mereka. Sayangnya, tidak seperti Dogtooth, We Are What We Are bukanlah sebuah black comedy yang dipenuhi dengan intensitas emosional yang kuat. Dan itu menjadi kelemahan terbesar film ini. Hingga film ini berakhir, Grau gagal menampilkan para karakternya menjadi deretan karakter yang mampu memberikan rasa ketertarikan emosional dari penontonnya.

Patricia, Alfredo, Sabina dan Julián memang tampil menarik karena latar belakang mereka yang berasal dari keluarga dengan latar belakang seorang kanibal. Terlepas dari itu, secara pribadi, empat karakter ini tidaklah begitu mampu menawarkan sisi drama yang kuat untuk dapat diikuti dengan seksama. Permasalahan hidup yang dialami mereka juga tidak pernah mampu tergali dengan sempurna. Masalah pemilihan siapa yang akan menjadi pemimpin keluarga dan berbagai intrik yang mengelilinginya ditampilkan mendalam pada awalnya dan sama sekali tidak mendapatkan jalan penyelesaian atau pemaparan yang memadai.

Dari unsur horor, We Are What We Are juga terasa terlalu minimalis. Menawarkan beberapa adegan berdarah namun tidak pernah menampilkan secara lantang, yang membuat mereka yang mengharapkan sebuah tampilan yang berbeda dari kisah keluarga kanibal ini akan sangat kecewa. Sisi-sisi terbaik dari jalan cerita film ini, ironisnya, justru berasal dari selipan-selipan kasar yang secara cerdas diletakkan Grau dalam menyampaikan pesan dan kritik sosial seperti yang dipapatkan di bagian awal tadi.

Departemen akting, untungnya, juga dipenuhi dengan talenta-talenta Meksiko yang sangat handal dalam menghidupkan karakter mereka, khususnya Francisco Barreiro dan Paulina Gaitan – pemeran Afredo dan Sabina – yang berhasil memberikan kedalaman karakter yang cukup sempurna dalam memerankan karakter mereka yang mendapatkan banyak aliran emosi di sepanjang jalan cerita. Sebenarnya, Jorge Michel Grau telah melakukan pekerjaan yang cukup baik dalam mengemas We Are What We Are.

Dengan bantuan akting para pemerannya yang solid, sinematografi kelam yang menambah atmosfer kemuraman jalan cerita serta tata musik yang mampu mengangkat emosi setiap adegan, We Are What We Are, sayangnya, gagal menjalin sebuah hubungan komunikasi emosional dengan penontonnya. Hasilnya, setiap karakter film ini terasa hanya bercerita mengenai kehidupan mereka tanpa mau memberikan perhatian agar para pendengarnya mau turut merasakan apa yang mereka alami. We Are What We Are lebih berhasil dalam misinya untuk menyentil perhatian penonton mengenai kondisi sosial masyarakat saat ini, daripada sebuah horor yang tampil kurang memuaskan maupun drama yang tampil kurang emosional.
Sumber

we-are-what-we-are-3.jpg

we-are-what-we-are-2013-still.jpeg

dark-touch.jpg

[Trailer]

[Download Now & Subtitle]

Film yang Lainnya..
Comments

Like Us on Facebook
Category
Video Terbaru
Statistik